![]() |
| Sumber: Indonesiakaya.com |
Kisah cinta di tanah jauh,
Tanah kerinduan di Rijuan TujuhTujuan akhir pemuda rantau, Dari jangkang di atas sanggau Gadis kanayan memikat hati, Memberikan cinta sepenuh hati Bumi dipijak langit dijunjung, Sampaikan cinta pada penghujungBeda bahasa beda budaya, Lain adat lain silsilahPagar batas menahan langkah, Warna-warni masalah berujung kisahApakah cinta seputih kapas, Mengubah pelangi di langit lepas
Di bait terakhir puisi tersebut, tergambar kerisauan hati seorang pria yang cintanya terhalang oleh adat. Kisah cinta yang terhalang oleh adat merupakan kisah klasik yang banyak terjadi di masyarakat Suku Dayak, Kalimantan. Sejak dulu, berkembang peraturan adat yang mengatur pantangan menikah dengan seseorang yang berlainan suku. Hal ini lazim terjadi mengingat Suku Dayak memiliki subetnis yang banyak dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Puisi bertemakan kisah kasih tak sampai tersebut kemudian menjadi prolog lahirnya sebuah tari kreasi yang bernama tari bopureh.
Tari Bopureh berasal dari masyarakat Suku Dayak. Suku yang menetap di Kalimantan ini memilki subetnis yang cukup banyak. Tiap subetnis memiliki aturan yang berbeda – beda.Tak jarang cinta yang tumbuh terhalang oleh aturan adat. Sebuah kisah klasik yang menghiasi kehidupan masyarakat suku Dayak.
Tari Bopureh berasal dari masyarakat Suku Dayak. Suku yang menetap di Kalimantan ini memilki subetnis yang cukup banyak. Tiap subetnis memiliki aturan yang berbeda – beda.Tak jarang cinta yang tumbuh terhalang oleh aturan adat. Sebuah kisah klasik yang menghiasi kehidupan masyarakat suku Dayak.
Tari Bopureh mengisahkan cerita cinta seorang pemuda Suku Dayak Jangkang. Pemuda ini mencintai wanita dari Suku Dayak Kanayan. Cinta yang tumbuh diantara keduanya terhalang oleh adat. Dua sejoli yang terikat tali kasih ini tak bisa berbuat apa – apa. Memang sebuah pantangan bagi masyarakat Dayak untuk menikah dengan orang di luar kelompoknya. Dalam bahasa Jangkang, “bopureh” mengandung arti silsilah.
Sebagai garapan seni kreasi, tari bopureh tidak lepas dari unsur-unsur estetika tari tradisional Dayak pada umumnya. Misalnya dalam busana dan perlengkapan lainnya yang mendukung tarian tersebut dan erat dengan adat Dayak. Penari bopureh mengenakan pakaian adat Suku Dayak Kalimantan Barat, tapi yang telah dimodifikasi pada beberapa bagiannya. Perlengkapan mahkota burung tingang yang dikenakan penari pria semakin memperkental identitas tari bopureh sebagai bagian dari seni pertujukan Suku Dayak.
Tari Bopureh biasa ditarikan oleh 8 atau 10 penari dengan sepasang penari sebagai pemeran utamanya, tarian ini didominasi oleh liukan tangan sambil sesekali mengubah formasi. Di bagian tengah pementasan, delapan penari yang semuanya perempuan akan membentuk formasi melingkar dengan pria penari sebagai pusat lalu membentangkan kain warna warni yang merupakan simbolis dari beragamnya Suku Dayak. Agar nuansa dalam tarian lebih hidup, maka tari bopureh ini dilengkapi dengan iringan musik khas Dayak. http://youtube.com/watch?v=0n4ALw6pQYk
Daftar Pustaka
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kisah-kasih-tak-sampai-dalam-tari-bopureh
http://www.infobudaya.net/2019/01/kisah-cinta-yang-terhalang-adat-dalam-tari-bopureh/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar